Kebakaran Gedung Terra Drone di Kemayoran, Jakarta Pusat pada 9 Desember 2025 menewaskan 22 orang dan menyisakan trauma mendalam bagi 19 korban selamat. Tragedi yang terjadi saat jam makan siang ini mencatat dampak besar dengan 41 karyawan terjebak dalam gedung berlantai tujuh tanpa jalur evakuasi memadai. Berdasarkan data BPBD DKI Jakarta, dari 76 orang total pegawai, 54 selamat dan 22 meninggal dunia, mayoritas akibat menghirup gas beracun karbon monoksida.
Artikel ini mengungkap kesaksian para korban selamat yang berjuang melawan panik di tengah asap pekat, ledakan baterai drone, dan akses terbatas untuk menyelamatkan diri. Direktur Utama PT Terra Drone Indonesia telah ditetapkan sebagai tersangka pada 10 Desember 2025, menjadikan kasus ini pemicu evaluasi regulasi keselamatan gedung di Indonesia.
Daftar Isi Kesaksian:
- Ledakan Tiba-Tiba: Detik Pertama Kebakaran Terra Drone
- Terjebak di Lantai Atas: Tidak Ada Jalan Turun
- Asap Kimia yang Mencekik: Bau Menyengat dari Baterai Litium
- Perjuangan Menuju Rooftop: Satu-Satunya Harapan Hidup
- Telepon Terakhir: “Bu, Kantor Aku Meledak”
- Evakuasi Dramatis: Menuruni Tangga Damkar dengan Kepulan Asap
- Korban yang Tidak Terselamatkan: Ditemukan Lemas di Lantai 3-5
- Pembelajaran dari Tragedi: Apa yang Harus Berubah?
1. Ledakan Tiba-Tiba: Detik Pertama Kebakaran Terra Drone

Kebakaran bermula sekitar pukul 12.30-12.43 WIB pada 9 Desember 2025, tepat saat jam istirahat makan siang. Puluhan karyawan PT Terra Drone Indonesia tersebar—sebagian makan di luar, sebagian beristirahat di lantai 2 hingga 6. Tanpa peringatan, suara ledakan keras mengguncang gedung.
SA (20), staf HRD yang berada di lantai 3, langsung menelepon ibunya: “Kantor aku meledak, bos aku mati”. Ibunda SA, Dea Anjani (52), yang menerima panggilan tersebut mengaku langsung lemas. SA menjadi satu-satunya karyawan yang selamat dari lantai 3 karena langsung turun ke bawah begitu mendengar ledakan, sementara semua rekan kerjanya—termasuk bosnya—meninggal dunia.
Polisi mengidentifikasi sumber api berasal dari gudang baterai drone di lantai 1. Karyawan sempat mencoba memadamkan dengan APAR (Alat Pemadam Api Ringan), namun gagal. Api menyebar cepat karena lantai dasar merupakan area gudang penyimpanan, dan dalam hitungan menit, asap pekat mulai mengepung lantai-lantai atas.
Fakta Penting: Terra Drone Indonesia merupakan perusahaan penyedia jasa drone untuk survei udara dengan klien di berbagai sektor seperti pertambangan, pertanian, dan konstruksi. Gedung di Kemayoran berfungsi sebagai kantor, tempat servis, dan gudang penyimpanan baterai litium.
2. Terjebak di Lantai Atas: Tidak Ada Jalan Turun

Hansel (31), karyawan divisi marketing yang berada di lantai 4 bersama enam rekan kerja, awalnya hanya mendengar kabar kebakaran tanpa melihat api langsung. “Ada yang bilang kebakaran, lalu ada asap tipis-tipis,” ujarnya. Ketujuh orang tersebut segera menuju lantai atas menggunakan tangga.
Namun situasi memburuk dengan cepat. Gedung hanya memiliki satu pintu keluar-masuk dan satu lift, tanpa jalur evakuasi alternatif. Asap terus merambat ke lantai lain, menyebabkan korban meninggal karena lemas. Para karyawan yang berusaha turun menemui jalan tertutup asap pekat berbau kimia.
Novia, salah satu korban yang ditemukan di lantai 5, terjebak karena api telah menyebar dan menutup akses turun ke lantai 1. Suaminya, Prasetyo, menjelaskan bahwa jenazah istrinya ditemukan masih utuh, diduga meninggal akibat kekurangan oksigen. Novia yang tengah hamil adalah salah satu dari 15 korban perempuan dalam tragedi ini.
Data Real-time:
- 41 orang berada dalam gedung saat kebakaran
- 22 korban meninggal: 15 perempuan, 7 laki-laki
- Korban paling banyak ditemukan di lantai 3-5, bukan di titik api
- Hanya ada satu akses keluar-masuk
3. Asap Kimia yang Mencekik: Bau Menyengat dari Baterai Litium

Hansel, salah satu karyawan yang selamat, mengungkapkan ada bau kimia yang menyengat selama proses evakuasi. Asap tebal yang berasal dari pembakaran baterai litium mengandung gas beracun berbahaya, terutama karbon monoksida.
Kepala Dinas Gulkarmat Jakarta, Bayu Megantara, menyebutkan dugaan awal kebakaran berasal dari baterai litium yang disimpan di lantai dasar. Baterai litium, yang digunakan untuk mengisi daya drone, sangat mudah terbakar dan menghasilkan asap kimia pekat ketika mengalami thermal runaway (kegagalan termal).
Hansel (31) menggambarkan momen tersebut sebagai “beberapa menit paling panjang dalam hidupnya”. Asap pekat mulai merayap dari tangga darurat, memaksa mereka menutup hidung dengan pakaian seadanya agar tidak terlalu banyak menghirup asap berbahaya.
Tim RS Polri Kramat Jati yang melakukan otopsi menemukan mayoritas korban meninggal akibat menghirup asap dan gas karbon monoksida, bukan karena luka bakar. Polisi menduga korban meninggal sudah lemas sehingga tidak memiliki tenaga untuk naik ke rooftop.
Link Terkait: Untuk memahami lebih lanjut tentang bahaya kebakaran baterai litium dan protokol keselamatan yang seharusnya diterapkan, kunjungi nwipp-newspapers.com yang menyediakan analisis mendalam tentang standar keselamatan industri.
4. Perjuangan Menuju Rooftop: Satu-Satunya Harapan Hidup

Dengan akses ke bawah tertutup total, Hansel dan rekannya hanya punya satu pilihan: naik. Mereka bergegas menuju atap gedung sambil menutup hidung dengan pakaian untuk mengurangi paparan asap.
Sesampainya di atap, angin cukup membantu mengusir asap yang mengepung tubuh mereka, namun rasa takut belum hilang. Dari atas, mereka bisa melihat kobaran api yang membesar dari lantai-lantai bawah. Suara sirene pemadam yang mendekat menjadi satu-satunya harapan.
Rata-rata korban yang selamat menggunakan evakuasi dari rooftop, naik ke atas kemudian menyeberang ke gedung sebelahnya. Namun, tidak semua karyawan yang berhasil mencapai atap. Banyak korban tewas ditemukan di lantai 3-5 karena sudah lemas akibat menghirup asap.
Kesaksian Wandi (51), tukang parkir di sekitar lokasi: “Ada saya lihat, dia melambaikan tangan. Mereka pada melambaikan tangan minta tolong di atas”. Ia melihat ada yang menyelamatkan diri lewat ruko sebelah gedung yang terbakar menggunakan tali dan tangga improvisasi.
5. Telepon Terakhir: “Bu, Kantor Aku Meledak”
Dea Anjani menerima telepon panik dari putrinya SA sekitar pukul 12.00 siang: “Bun, kantor aku meledak”, lalu telepon langsung mati. Dea yang mendengar kabar tersebut langsung lemas dan bergegas ke lokasi.
Saat bertemu, SA menangis dan berkata “aku selamat ibu, aku selamat”. SA menceritakan bahwa tiba-tiba terdengar bunyi “bum”, lalu ia langsung sigap turun ke bawah. Karena respons cepatnya, SA menjadi satu-satunya yang selamat dari lantai 3.
SA mengungkapkan trauma mendalam: “Tadi pagi masih ngobrol sama bosnya, masih sama temen-temennya pas makan siang. Lalu tiba-tiba mereka sudah meninggal”. Semua rekan kerjanya di lantai 3, termasuk atasan langsungnya, meninggal dalam tragedi tersebut.
Kisah Pilu Lainnya: Seorang kurir sameday, Albert Irawan, mengaku menjadi salah satu orang terakhir yang masuk ke kantor Terra Drone sebelum kebakaran. Ia mengantarkan paket pada pukul 11.30 WIB, dan paket diterima oleh seorang wanita hamil—yang kemudian menjadi salah satu korban meninggal dalam insiden ini.
6. Evakuasi Dramatis: Menuruni Tangga Damkar dengan Kepulan Asap
Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar) tiba tujuh menit setelah menerima laporan dan langsung bergerak cepat menyelamatkan korban yang terjebak. Sebanyak 28 unit mobil pemadam dengan 101 personel dikerahkan untuk menangani situasi genting ini.
Sejumlah pegawai yang terjebak di lantai atas menyelamatkan diri lewat tangga mobil pemadam kebakaran yang dipasang di tembok samping gedung. Satu per satu, mereka bergantian menuruni anak tangga dalam kondisi kepulan asap masih tebal dari bawah.
Hansel dan rekannya berupaya mencari cara agar bisa turun dari rooftop dengan selamat. Setelah beberapa saat di atap yang masih dipenuhi asap, tim penyelamat akhirnya berhasil mengevakuasi mereka. Video viral yang beredar di media sosial menunjukkan Hansel sebagai salah satu yang meminta pertolongan dari atap gedung.
Kasat Reskrim Polres Metro Jakarta Pusat AKBP Roby Heri Saputra memastikan sekitar 19 orang yang mencapai lantai paling atas berhasil diselamatkan tim Damkar. Namun proses evakuasi tidak mudah—petugas harus memecahkan kaca gedung menggunakan bronto skylift untuk mengevakuasi korban yang terjebak.
Apresiasi Heroik: Mendagri Tito Karnavian sangat mengapresiasi gerak cepat petugas Damkar yang dalam waktu 7 menit setelah laporan langsung datang ke TKP dan melakukan evakuasi melalui jalur samping.
7. Korban yang Tidak Terselamatkan: Ditemukan Lemas di Lantai 3-5
Dari 41 orang yang berada dalam gedung, 22 korban tidak berhasil diselamatkan. Berbeda dengan yang selamat melalui rooftop, para korban yang meninggal ditemukan di lantai 3 hingga lantai 5—bukan di titik api lantai 1.
Kepala Dinas Gulkarmat Jakarta Bayu Megantara mengungkap korban paling banyak ditemukan di lantai 3 dan 4 meski bukan titik kebakaran, karena lantai tersebut penuh dengan asap. Para korban mengalami sesak napas dan kehilangan kesadaran sebelum sempat mencapai rooftop.
Tim DVI (Disaster Victim Identification) Polri bekerja intensif mengidentifikasi seluruh korban. Dalam waktu kurang dari 24 jam—dari Selasa malam hingga Rabu sore 10 Desember 2025—seluruh 22 korban telah teridentifikasi lengkap. Proses identifikasi menggunakan metode pencocokan sidik jari, rekam gigi, data medis, dan properti pribadi.
Daftar Korban yang Teridentifikasi (sebagian):
- Pariyem (31), perempuan dari Lampung Barat
- Ninda Tan (32), perempuan dari Serpong, Tangerang Selatan
- Muhammad Arief Budiman (24), laki-laki dari Mampang Prapatan, Jakarta Selatan
- Muhammad Apriyana (40), laki-laki dari Tangerang
- Dela Yohana Simanjuntak (22), perempuan dari Kebayoran Lama, Jakarta Selatan
Seluruh korban adalah karyawan PT Terra Drone Indonesia yang sedang bekerja atau beristirahat saat kebakaran terjadi.
8. Pembelajaran dari Tragedi: Apa yang Harus Berubah?
Tragedi kebakaran Gedung Terra Drone mengekspos kelemahan serius dalam regulasi keselamatan gedung di Indonesia. Direktur Utama PT Terra Drone Indonesia berinisial MW telah ditetapkan sebagai tersangka pada 10 Desember 2025, menandai langkah hukum pertama dalam investigasi kasus ini.
Temuan Krusial:
- Gedung hanya memiliki satu pintu akses keluar-masuk
- Tidak ada jalur evakuasi darurat yang memadai
- Penyimpanan baterai litium dalam jumlah besar tanpa sistem keselamatan memadai
- APAR yang tersedia tidak cukup untuk memadamkan kebakaran baterai kimia
Mendagri Tito Karnavian mengumumkan akan menggelar rapat dengan seluruh kepala daerah dan Kepala Dinas Pemadam Kebakaran untuk evaluasi menyeluruh. Evaluasi mencakup sistem OSS (Online Single Submission), PBG (Persetujuan Bangunan Gedung), hingga pemeriksaan berkala untuk Sertifikat Laik Fungsi (SLF).
Rekomendasi Perbaikan:
- Audit Berkala Gedung: Implementasi pemeriksaan rutin seperti uji KIR kendaraan untuk memastikan kelayakan gedung
- Jalur Evakuasi Ganda: Setiap gedung wajib memiliki minimal 2 jalur evakuasi terpisah
- Standar Penyimpanan Baterai Litium: Regulasi khusus untuk penyimpanan bahan berbahaya
- Sistem Deteksi Dini: Instalasi alarm asap dan sprinkler otomatis di setiap lantai
- Pelatihan Evakuasi: Simulasi kebakaran rutin untuk seluruh penghuni gedung
Baca Juga KPK Panggil Ridwan Kamil
Dari Tragedi Menuju Perubahan
Kebakaran Gedung Terra Drone pada 9 Desember 2025 mencatat sejarah kelam dengan 22 korban jiwa. Kesaksian para korban selamat mengungkap realitas mengerikan tentang betapa cepatnya bencana dapat terjadi dan betapa pentingnya protokol keselamatan yang memadai.
Hansel, SA, dan 17 korban selamat lainnya kini hidup dengan trauma mendalam, mengingat rekan-rekan kerja mereka yang tidak sempat diselamatkan. SA yang masih mengingat percakapan terakhir dengan bosnya di pagi hari, kini harus menerima kenyataan bahwa semua teman-temannya meninggal.
Tragedi ini bukan hanya tentang angka statistik atau laporan investigasi—ini tentang nyawa manusia, keluarga yang kehilangan, dan sistem yang gagal melindungi mereka. Pertanyaan untuk kita semua: Sudahkah gedung tempat Anda bekerja memiliki jalur evakuasi yang aman? Sudahkah ada simulasi kebakaran? Apakah sistem keselamatan memadai?
Poin mana yang paling membuat Anda prihatin dari kesaksian korban selamat ini? Bagaimana menurut Anda regulasi keselamatan gedung di Indonesia perlu diperbaiki?
Artikel ini disusun berdasarkan data terkini per 11 Desember 2025 dari berbagai sumber berita resmi, kesaksian korban selamat, dan keterangan pihak berwenang. Semua informasi telah diverifikasi untuk memastikan akurasi faktual.
Untuk informasi lebih lanjut tentang standar keselamatan bangunan dan regulasi terkini, kunjungi nwipp-newspapers.com.
