nwipp-newspapers – Pernah nggak sih scroll TikTok atau Instagram, lalu tiba-tiba berhenti di video seseorang yang baru pulang dari Korea dengan kulit wajah kelihatan glowing, lembap, dan seperti selalu kena lighting bagus?
Padahal videonya cuma direkam pakai kamera HP.
Dari sinilah biasanya muncul satu pertanyaan: “Treatment apa yang dipakai?”
Salah satu jawaban yang belakangan sering muncul adalah skin booster Korea.
Treatment ini semakin populer karena menawarkan konsep yang sedikit berbeda dengan skincare sehari-hari. Kalau serum dan moisturizer diaplikasikan pada permukaan kulit, skin booster umumnya diberikan melalui prosedur medis untuk memasukkan bahan tertentu ke kulit.
Tujuannya pun bermacam-macam. Ada yang mengejar hidrasi, tekstur kulit lebih halus, elastisitas, tampilan pori, sampai efek wajah lebih glowing.
Lalu muncullah satu ekspektasi yang cukup besar.
Katanya skin booster Korea juga bisa bikin kulit putih.
Nah, bagian ini menarik.
Sebab antara kulit terlihat lebih cerah, warna kulit lebih merata, hiperpigmentasi berkurang, dan mengubah warna alami kulit menjadi beberapa tingkat lebih putih sebenarnya merupakan hal yang berbeda.
Jadi sebelum membayangkan sekali treatment langsung berubah menjadi Korean glass skin, yuk kenalan dulu dengan treatment yang satu ini.
Apa Itu Skin Booster Korea?
Istilah skin booster pada dasarnya digunakan untuk berbagai treatment injectable yang ditujukan untuk memperbaiki kualitas kulit secara menyeluruh.
Berbeda dengan filler yang biasanya digunakan untuk memberikan volume atau membentuk area tertentu, skin booster lebih berorientasi pada kualitas kulit.
Bayangkan kondisi kulit seperti tanah yang mulai kering.
Kita bisa mengecat permukaannya supaya terlihat bagus, tetapi kondisinya tetap kering. Konsep skin booster kurang lebih mencoba menangani kualitas “tanah” tersebut melalui bahan yang dimasukkan ke lapisan kulit menggunakan teknik tertentu.
Bahan yang digunakan pun tidak hanya satu jenis.
Ada skin booster berbasis hyaluronic acid atau HA, ada polynucleotide atau PN, dan ada pula berbagai formulasi lain yang dikembangkan untuk tujuan estetika tertentu.
Popularitas PN di Korea sendiri bukan sekadar fenomena media sosial.
Sebuah survei yang melibatkan 235 dokter spesialis kulit bersertifikat di Korea menemukan bahwa 88% responden menggunakan injeksi PN dalam praktik mereka. Indikasi yang banyak ditangani antara lain fine lines, tekstur kulit tidak merata, serta kulit kering.
Jadi ketika orang membicarakan skin booster Korea, PN memang menjadi salah satu bahan yang cukup sulit dilewatkan.
Kenapa Skin Booster Korea Bisa Begitu Populer?
Jawabannya mungkin ada hubungannya dengan perubahan standar kecantikan.
Dulu orang berburu makeup dengan coverage tinggi agar kulit terlihat flawless. Sekarang arahnya perlahan berubah.
Kulit justru diharapkan sudah terlihat bagus bahkan sebelum foundation menyentuh wajah.
Muncullah istilah seperti glass skin, dewy skin, healthy glow, sampai chok-chok skin yang identik dengan tampilan kulit lembap dan bercahaya.
Di sinilah skin booster menemukan panggungnya.
Treatment ini tidak hanya mengejar perubahan bentuk wajah. Target utamanya justru membuat kualitas kulit terlihat lebih baik.
Makanya orang yang datang untuk skin booster belum tentu punya kerutan berat atau tanda penuaan yang ekstrem.
Bisa saja masalahnya sederhana.
Kulit terasa kering, kusam, teksturnya kurang rata, atau makeup gampang terlihat cakey.
Setelah melihat berbagai before-after di internet, keinginan awal untuk sekadar “lebih glowing” kemudian berkembang.
“Kalau sekalian lebih putih, bisa nggak?”
Apakah Skin Booster Korea Bisa Memutihkan Kulit?
Ini pertanyaan sejuta umat.
Jawaban yang lebih realistis adalah skin booster tertentu berpotensi membantu kulit terlihat lebih cerah atau warna kulit tampak lebih merata, tetapi bukan berarti setiap skin booster dapat mengubah warna alami kulit menjadi jauh lebih putih.
Kulit kusam dan kulit gelap secara alami adalah dua kondisi berbeda.
Begitu pula dengan hiperpigmentasi.
Misalnya seseorang mempunyai bekas jerawat kehitaman, paparan matahari membuat warna wajah tidak merata, atau mengalami gangguan pigmentasi tertentu. Ketika masalah tersebut membaik, wajah dapat terlihat lebih cerah.
Namun bukan berarti pigmen alami kulitnya “dihapus”.
Pada PN, misalnya, sebuah studi mengenai penggunaan polynucleotide untuk regenerasi dan rejuvenasi kulit Asia melaporkan perbaikan pada beberapa parameter kualitas kulit, termasuk permukaan kulit, firmness, pigmentasi, dan radiance.
Menarik? Tentu.
Tetapi hasil tersebut tetap tidak boleh diterjemahkan menjadi janji bahwa PN pasti membuat semua orang menjadi beberapa tingkat lebih putih.
Istilah yang lebih masuk akal adalah brightening, skin radiance, dan perbaikan kualitas atau keseragaman warna kulit.
Kenalan dengan PN, Skin Booster yang Identik dengan Tren Korea
Kalau sudah masuk rabbit hole skin booster Korea di media sosial, kemungkinan besar kamu akan bertemu istilah PN atau polynucleotide.
PN digunakan dalam bidang estetika untuk mendukung perbaikan kualitas kulit dan regenerasi jaringan.
Bahan ini sering dibicarakan bersama PDRN atau polydeoxyribonucleotide. Keduanya berhubungan dengan fragmen DNA, tetapi PN dan PDRN tidak seharusnya dianggap sebagai istilah yang selalu identik karena karakteristik formulasi dan penggunaannya dapat berbeda.
Popularitas PN di Korea cukup tinggi.
Survei terhadap dokter kulit Korea yang diterbitkan dalam Journal of Cosmetic Dermatology menemukan tiga sesi dengan jarak sekitar empat minggu merupakan pola yang paling sering direkomendasikan oleh responden yang menggunakan PN.
Namun angka tersebut bukan resep universal.
Kebutuhan treatment tetap bergantung pada produk, kondisi kulit, area yang ditangani, tujuan treatment, serta penilaian dokter.
Apa yang Dicari dari Skin Booster PN?
Banyak orang awalnya datang karena menginginkan wajah glowing.
Namun sebenarnya tujuan penggunaan PN bisa jauh lebih luas.
Dalam survei dokter kulit Korea tadi, indikasi populer PN meliputi fine lines di beberapa area wajah, tekstur kulit tidak merata, serta kulit kering.
Penelitian klinis juga telah mengeksplorasi efek PN terhadap kualitas kulit seperti firmness, permukaan kulit, pigmentasi, dan radiance.
Review sistematis terbaru terhadap uji acak PN dan PDRN juga menemukan hasil yang menjanjikan untuk beberapa parameter rejuvenasi kulit. Meski demikian, jumlah penelitian dan partisipannya masih terbatas sehingga bukti tersebut belum berarti semua klaim pemasaran mengenai PN otomatis terbukti.
Dengan kata lain, treatment ini memang menarik.
Tapi tetap bukan magic potion.
Skin Booster Hyaluronic Acid Juga Beda Cerita
Sekarang kita pindah ke nama lain yang mungkin sudah lebih familiar: hyaluronic acid.
Kalau rajin skincare, kamu mungkin punya satu atau dua serum HA di meja rias.
Hyaluronic acid dikenal karena kemampuannya berkaitan dengan hidrasi. Dalam skin booster, HA digunakan melalui pendekatan yang berbeda dibandingkan serum yang sekadar diaplikasikan di permukaan kulit.
Targetnya biasanya berkaitan dengan kualitas dan hidrasi kulit.
Ketika kulit terhidrasi dengan baik, permukaannya bisa terlihat lebih plump, segar, dan memantulkan cahaya dengan lebih baik.
Efek visual itulah yang terkadang diterjemahkan orang sebagai “lebih putih”.
Padahal bisa jadi warna dasar kulit tidak banyak berubah.
Wajah hanya terlihat tidak sekusam sebelumnya.
Analogi sederhananya seperti kain berwarna yang sangat kering dan kusut dibandingkan kain yang kondisinya lebih terawat. Warnanya tidak berubah total, tetapi penampilannya bisa terlihat jauh lebih hidup.
Karena itulah sebelum memilih skin booster, penting mengetahui sebenarnya apa yang ingin diperbaiki.
Kalau masalah utamanya hidrasi, pendekatannya bisa berbeda dengan seseorang yang mempunyai masalah pigmentasi.
Bagaimana dengan Skin Booster Glutathione?
Nah, ini bagian yang sering membuat diskusi mengenai skin booster untuk mencerahkan kulit menjadi semakin ramai.
Nama glutathione sudah lama dipasarkan sebagai bahan skin lightening.
Glutathione sebenarnya merupakan antioksidan yang secara alami terdapat di dalam tubuh dan mempunyai hubungan dengan proses melanogenesis.
Sejumlah penelitian memang menemukan potensi efek pencerahan pada glutathione.
Tetapi rute pemberiannya sangat penting.
Review sistematis yang diterbitkan pada 2025 menemukan bahwa beberapa penelitian terhadap glutathione oral dan topikal menunjukkan penurunan indeks melanin. Namun kualitas bukti tidak seragam dan hasilnya juga tidak berarti semua orang akan mendapatkan perubahan dramatis.
Yang perlu mendapatkan perhatian khusus justru penggunaan glutathione intravena atau IV untuk tujuan memutihkan kulit.
Review tersebut menyatakan penggunaan IV glutathione untuk skin lightening tidak didukung profil manfaat-risiko yang memadai dan menggarisbawahi persoalan efek samping.
Jadi jangan menyamakan skincare yang mengandung glutathione, suplemen oral, treatment topikal, dan glutathione yang diberikan melalui infus.
Cara pemberian berbeda berarti profil bukti dan risikonya juga berbeda.
Jadi Glutathione Bisa Bikin Putih?
Ada penelitian yang menunjukkan potensi pencerahan pada beberapa bentuk glutathione, terutama oral dan topikal.
Namun hasilnya bervariasi.
Review sistematis terdahulu juga menyimpulkan bukti efek whitening glutathione belum konklusif karena kualitas penelitian serta hasil antarstudi tidak konsisten.
Bukti yang lebih baru memang menambah informasi mengenai potensinya, tetapi itu tetap bukan alasan untuk menganggap glutathione sebagai tombol “ubah warna kulit”.
Terlebih jika pembahasannya sudah masuk ke injeksi atau infus.
Treatment estetika bukan area yang tepat untuk bermain trial and error sendiri.
Skin Booster Korea Biasanya Disuntikkan Bagaimana?
Di sinilah banyak orang yang tadinya semangat mendadak bertanya, “Tunggu, berarti pakai jarum?”
Yup.
Banyak skin booster diberikan melalui sejumlah injeksi kecil ke kulit. Teknik, kedalaman, jumlah titik, serta alat yang digunakan dapat berbeda tergantung treatment.
Pada praktik PN di Korea, misalnya, survei terhadap dokter kulit menunjukkan teknik serial puncture dengan jarum berukuran kecil menjadi salah satu pendekatan yang umum digunakan.
Karena terdapat banyak titik injeksi, setelah treatment wajah mungkin tidak langsung terlihat seperti filter Instagram.
Justru bisa terjadi sebaliknya untuk sementara.
Ada kemungkinan muncul kemerahan, sedikit bengkak, memar, atau benjolan kecil pada titik penyuntikan.
Inilah bagian yang kadang hilang dari video before-after.
Kita melihat hasil beberapa hari atau minggu kemudian, tetapi tidak selalu melihat proses recovery tepat setelah prosedur.
Apakah Skin Booster Korea Sakit?
Jawabannya sangat individual.
Sensasi prosedur dipengaruhi area treatment, teknik injeksi, produk, jumlah titik suntikan, ambang nyeri seseorang, dan penggunaan anestesi topikal.
Area wajah tertentu juga lebih sensitif daripada area lainnya.
Ada orang yang menggambarkannya sebagai cekit-cekit kecil berkali-kali. Ada pula yang merasa prosedurnya cukup tidak nyaman.
Jadi kalau ada yang mengatakan “nggak sakit sama sekali”, jangan langsung menganggap pengalamanmu nanti pasti sama.
Ambang nyeri setiap orang berbeda.
Yang lebih penting justru prosedur dilakukan oleh tenaga medis yang kompeten dengan teknik steril dan produk yang jelas.
Berapa Kali Skin Booster Harus Dilakukan?
Tidak ada satu angka yang berlaku untuk semua jenis skin booster.
Dalam survei dokter kulit Korea mengenai injectable PN, pola yang paling sering direkomendasikan adalah tiga sesi dengan jarak empat minggu.
Tetapi sekali lagi, itu menggambarkan pola praktik responden untuk PN, bukan aturan wajib bagi seluruh skin booster.
Produk HA bisa mempunyai protokol berbeda. Formulasi PN yang berbeda juga dapat memiliki rekomendasi berbeda.
Kondisi pasien pun menentukan.
Seseorang dengan kulit relatif sehat yang hanya menginginkan hidrasi belum tentu memiliki kebutuhan sama dengan seseorang yang sedang menangani tanda penuaan atau masalah pigmentasi.
Karena itu sedikit red flag kalau sebuah tempat langsung menjual paket treatment tanpa terlebih dahulu melihat kondisi kulit dan riwayat kesehatan.
Kapan Hasil Skin Booster Mulai Terlihat?
Ini juga bukan treatment yang hasil akhirnya harus dinilai lima menit setelah keluar dari ruang tindakan.
Kulit membutuhkan waktu untuk melewati fase recovery dan menunjukkan perubahan.
Hasilnya bergantung pada bahan yang digunakan dan tujuan treatment.
Pada penelitian PN untuk kulit Asia, perbaikan sejumlah parameter kualitas kulit dinilai dalam periode follow-up dan manfaat estetika tertentu dilaporkan masih terlihat sampai kunjungan bulan keenam.
Namun bukan berarti semua produk PN otomatis bertahan enam bulan.
Hasil studi terhadap satu intervensi tidak boleh digeneralisasikan begitu saja kepada setiap produk yang menggunakan kata “PN” pada kemasannya.
Lifestyle juga berpengaruh pada penampilan kulit.
Paparan sinar ultraviolet, kebiasaan merokok, skincare, tidur, kondisi kesehatan, hingga perubahan hormon dapat memengaruhi bagaimana kulit terlihat.
Brightening dan Whitening Ternyata Tidak Sama
Ini bagian yang sering terlewat.
Ketika orang mengatakan ingin kulit “putih”, sebenarnya yang diinginkan kadang bukan mengubah warna kulit alami.
Mereka hanya ingin wajah tidak kusam.
Bekas jerawat memudar.
Warna kulit lebih rata.
Flek berkurang.
Atau wajah kembali terlihat seperti sebelum sering terkena matahari.
Target seperti ini lebih tepat dibicarakan sebagai brightening atau penanganan hiperpigmentasi.
Melanin sendiri bukan musuh yang harus dihilangkan. Pigmen ini merupakan bagian normal dari kulit dan berperan dalam memberikan warna pada kulit, rambut, serta mata.
Masalah estetika biasanya muncul ketika distribusi pigmentasi tidak merata atau terjadi hiperpigmentasi tertentu.
Karena itu dokter perlu melihat penyebabnya.
Melasma, post-inflammatory hyperpigmentation setelah jerawat, sun spots, dan wajah yang sekadar terlihat kusam bukan masalah yang identik.
Kalau penyebabnya berbeda, treatment terbaiknya pun bisa berbeda.
Apakah Semua Orang Cocok Melakukan Skin Booster?
Belum tentu.
Hanya karena treatment sedang viral di Korea bukan berarti treatment tersebut otomatis cocok untuk setiap wajah.
Sebelum melakukan prosedur injectable, dokter perlu mengetahui kondisi kulit dan riwayat kesehatan pasien.
Informasi mengenai alergi, obat yang sedang digunakan, penyakit tertentu, kondisi kulit aktif, serta riwayat prosedur estetika sebelumnya dapat relevan terhadap keputusan treatment.
Kehamilan atau menyusui juga perlu disampaikan kepada dokter sebelum melakukan prosedur kosmetik.
Kalau sedang mengalami jerawat meradang atau infeksi pada area yang akan ditreatment, jangan menyembunyikannya hanya karena sudah terlanjur booking.
Treatment yang bagus bukan treatment yang selalu dilakukan.
Kadang keputusan yang benar justru menunda prosedur sampai kondisinya memungkinkan.
Risiko Skin Booster yang Jangan Dilupakan
Media sosial biasanya menampilkan dua bagian: before dan after.
Yang jarang mendapat screen time adalah bagian di tengahnya.
Skin booster tetap merupakan prosedur medis ketika dilakukan dengan injeksi.
Efek setelah tindakan dapat mencakup kemerahan, swelling, rasa tidak nyaman, memar, dan perubahan sementara pada area injeksi.
Risiko juga dipengaruhi bahan dan teknik yang digunakan.
Ada pula risiko yang berkaitan dengan injeksi secara umum seperti infeksi apabila prosedur tidak dilakukan secara steril.
Itulah alasan pemilihan klinik tidak seharusnya cuma berdasarkan siapa yang memberikan diskon paling besar.
Tanyakan produk apa yang digunakan.
Tanyakan siapa yang melakukan prosedur.
Tanyakan apakah produk memiliki izin yang sesuai di negara tempat treatment dilakukan.
Dan yang nggak kalah penting, tanyakan apa yang harus dilakukan kalau muncul komplikasi setelah pulang.
Jangan Pilih Skin Booster Hanya Karena Viral
Bayangkan kamu masuk ke sebuah klinik dan mengatakan, “Dok, saya mau treatment yang viral di Korea.”
Pertanyaan berikutnya seharusnya bukan langsung, “Mau paket tiga kali atau lima kali?”
Seharusnya pembicaraan dimulai dari masalah kulit.
Apa yang sebenarnya ingin diperbaiki?
Kalau kulit kering dan kusam, pendekatannya bisa berorientasi pada hidrasi dan kualitas kulit.
Kalau masalah utama adalah flek atau melasma, dokter perlu menilai pigmentasinya.
Kalau ingin menangani fine lines dan tekstur, opsi yang dipertimbangkan juga bisa berbeda.
Nama treatment adalah alat.
Bukan tujuan.
Inilah kenapa dua orang bisa masuk ke klinik dengan kalimat sama, “Aku pengin glowing,” lalu keluar dengan rencana treatment berbeda.
Skin Booster atau Skincare, Mana yang Lebih Bagus?
Pertanyaan ini sebenarnya seperti bertanya, “Olahraga atau makan sehat, mana yang lebih bagus?”
Keduanya tidak harus bermusuhan.
Skin booster bukan pengganti seluruh skincare.
Setelah mengeluarkan biaya untuk treatment, lalu pulang dan setiap hari berjemur tanpa sunscreen tentu bukan strategi yang ideal kalau tujuan utamanya menjaga warna kulit tetap merata.
Perawatan dasar tetap penting.
Membersihkan kulit dengan tepat, menjaga kelembapan, menggunakan perlindungan terhadap paparan matahari, serta menangani masalah kulit dengan bahan aktif yang sesuai tetap menjadi bagian dari perawatan.
Treatment klinis dapat menjadi tambahan ketika memang diperlukan.
Bukan tiket untuk meninggalkan semua kebiasaan perawatan kulit.
Berapa Biaya Skin Booster Korea?
Harga sangat bervariasi karena istilah skin booster mencakup banyak produk.
Biaya bisa dipengaruhi merek, kandungan, jumlah produk yang digunakan, jumlah sesi, lokasi klinik, dokter yang menangani, serta treatment tambahan.
Karena itu membandingkan harga hanya dari nama “skin booster” bisa menyesatkan.
Dua klinik sama-sama menawarkan skin booster tetapi sebenarnya menggunakan produk, volume, dan protokol yang berbeda.
Kalau menemukan harga yang jauh di bawah harga pasar, jangan cuma senang.
Cari tahu produknya.
Produk injectable masuk ke tubuh melalui prosedur medis. Keaslian, penyimpanan, sterilisasi, dan kompetensi orang yang melakukan tindakan jauh lebih penting daripada mendapatkan promo termurah.
Skin Booster Korea Mana yang Bagus untuk Mencerahkan?
Tidak ada satu skin booster yang bisa dinobatkan sebagai pilihan terbaik untuk semua orang.
Kalau target utamanya kulit kering dan ingin terlihat lebih plump, dokter mungkin mempertimbangkan pendekatan berbeda dibandingkan pasien yang mempunyai masalah pigmentasi.
PN menarik karena penelitian telah mengeksplorasi manfaatnya terhadap kualitas kulit, termasuk radiance dan pigmentasi. Di Korea sendiri penggunaannya juga cukup luas di kalangan dokter kulit yang disurvei.
Namun PN bukan sinonim dari “suntik putih”.
Sementara itu, HA lebih sering diasosiasikan dengan hidrasi dan peningkatan kualitas kulit.
Glutathione memiliki cerita yang berbeda lagi karena bukti dan keamanannya sangat bergantung pada bentuk serta rute pemberian. Khusus IV glutathione untuk skin lightening, literatur ilmiah memberikan alasan kuat untuk berhati-hati dan tidak menjadikannya pilihan kosmetik rutin.
Jadi daripada datang dengan pertanyaan “mana yang paling putih?”, pertanyaan yang lebih berguna adalah “apa penyebab kulit saya terlihat kusam atau tidak merata?”
Dari sana treatment bisa dipilih berdasarkan masalah, bukan tren.
Hati-Hati dengan Janji Putih Instan
Kata “instan” memang enak didengar.
Apalagi kalau ditemani foto before-after dramatis.
Namun hasil treatment estetika seharusnya dinilai secara realistis.
Pencahayaan, exposure kamera, makeup, angle, bahkan white balance dapat membuat warna kulit terlihat sangat berbeda dalam foto.
Belum lagi filter dan editing.
Karena itu foto promosi tidak seharusnya menjadi satu-satunya dasar mengambil keputusan medis.
Kalau sebuah treatment menjanjikan perubahan warna kulit ekstrem dalam waktu sangat singkat tanpa risiko apa pun, justru waktunya lebih kritis.
Tanyakan bukti klinisnya.
Tanyakan bahan yang digunakan.
Dan jangan malu mencari second opinion.
Wajahmu akan dibawa pulang setiap hari. Promo kliniknya belum tentu.
Jadi, Seberapa Cerah Hasil yang Bisa Diharapkan?
Mungkin ini bukan jawaban se-wow iklan treatment, tetapi jauh lebih realistis.
Skin booster Korea dapat menjadi salah satu opsi untuk memperbaiki kualitas kulit, tergantung bahan yang digunakan dan masalah yang ingin ditangani.
PN mempunyai data yang menjanjikan untuk beberapa aspek rejuvenasi seperti tekstur, firmness, radiance, serta pigmentasi. Penggunaannya juga cukup populer di kalangan dokter kulit Korea.
Skin booster berbasis HA lebih erat kaitannya dengan hidrasi dan kualitas kulit. Ketika kulit lebih terhidrasi dan permukaannya terlihat lebih sehat, wajah dapat memberikan kesan lebih glowing dan fresh.
Namun “glowing dan cerah” tidak sama dengan menjamin perubahan warna kulit alami menjadi jauh lebih putih.
Kalau tujuanmu menangani kusam, bekas jerawat kehitaman, melasma, atau warna kulit tidak merata, cari tahu dulu penyebabnya. Skin booster mungkin menjadi salah satu bagian dari treatment, tetapi bukan satu-satunya jawaban.
Dan kalau ada satu hal yang bisa dipelajari dari tren glass skin Korea, mungkin bukan tentang mengejar kulit seputih mungkin.
Justru kulit yang terlihat sehat, terawat, lembap, dan mempunyai warna yang merata sering kali memberikan efek glowing yang selama ini dicari.
Jadi sebelum duduk di kursi treatment sambil menunggu jarum pertama menyentuh wajah, ubah pertanyaannya.
Bukan lagi, “Skin booster apa yang paling bikin putih?”
Tetapi, “Kulitku sebenarnya butuh apa?”
Dari pertanyaan sederhana itu, perjalanan menuju kulit yang lebih sehat bisa dimulai dengan ekspektasi yang jauh lebih masuk akal.
Referensi
Rho NK, Han KH, Cho M, Kim HS. A survey on the cosmetic use of injectable polynucleotide: The pattern of practice among Korean Dermatologists. Journal of Cosmetic Dermatology. 2024.
https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/38093498/
Lim et al. Polynucleotides HPT for Asian Skin Regeneration and Rejuvenation. 2024.
https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/38371328/
Polynucleotides and Polydeoxyribonucleotides for Skin Rejuvenation, Postoperative Scar Prevention, and Wound Healing: A Systematic Review of Randomized Clinical Trials. 2026.
https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/42572627/
Sarkar R, Yadav V, Yadav T, et al. Glutathione as a skin-lightening agent and in melasma: a systematic review. International Journal of Dermatology. 2025.
https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/39444151/
Khanna R, Rambhia P, Chapas A. Systematic Review of the Efficacy and Safety of Topical Glutathione in Dermatology. Journal of Clinical and Aesthetic Dermatology. 2025.
https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/41416233/
Dilokthornsakul W, Dhippayom T, Dilokthornsakul P. The clinical effect of glutathione on skin color and other related skin conditions: A systematic review. Journal of Cosmetic Dermatology. 2019.
https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/30895708/
Dlova NC, Enechukwu NA, Cole-Adeife O, et al. Systemic glutathione for skin lightening – A scoping review of current evidence. Journal of the European Academy of Dermatology and Venereology. 2026.
https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/42183737/
Davids LM, Van Wyk JC, Khumalo NP. Intravenous glutathione for skin lightening: Inadequate safety data. South African Medical Journal. 2016.
https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/27499402/
