nwipp-newspapers – Ada pemandangan yang cukup menarik di Bursa Efek Indonesia pada perdagangan terakhir Agustus 2026. Ketika layar perdagangan mulai dipenuhi warna merah dan Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG kembali kehilangan tenaga, investor asing ternyata tidak sekadar duduk sambil menunggu keadaan membaik.
Mereka melakukan rotasi.
Sebagian uang asing masuk ke saham perbankan besar seperti BBRI dan BBCA. Namun di sisi lain, saham PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk atau GOTO justru menjadi sasaran penjualan.
Bukan receh.
Pada perdagangan sesi pertama Senin, 31 Agustus 2026, GOTO tercatat sebagai saham dengan nilai net foreign sell terbesar. Berdasarkan data perdagangan yang dikutip IDNFinancials, penjualan bersih asing di saham GOTO mencapai sekitar Rp115,82 miliar.
Angka tersebut menempatkan GOTO di posisi teratas daftar saham yang paling banyak dilepas investor asing pada sesi pertama perdagangan.
Situasinya semakin menarik karena pada saat bersamaan IHSG juga sedang tidak baik-baik saja.
Hingga penutupan sesi pertama, IHSG berada di level 6.517,24 atau turun tipis sekitar 0,01 persen. Kalau hanya melihat persentasenya memang seperti tidak terjadi apa-apa. Tetapi sepanjang perdagangan pagi, IHSG sempat turun hingga menyentuh level 6.476,18.
Pada awal perdagangan, tekanan bahkan sudah terasa. Sekitar pukul 09.15 WIB, IHSG sempat kehilangan 11,86 poin atau sekitar 0,18 persen menuju level 6.506.
Jadi bayangkan suasananya.
Hari terakhir Agustus. IHSG bergerak merah. Pasar sedang menunggu sejumlah data ekonomi. Ada sentimen politik domestik. Investor juga menghadapi hari efektif rebalancing MSCI.
Di tengah suasana tersebut, GOTO malah menjadi saham yang paling deras dilepas asing.
Pertanyaannya tentu sederhana: ada apa dengan GOTO?
Apakah investor asing mulai kehilangan kepercayaan terhadap perusahaan teknologi yang menaungi ekosistem GoTo tersebut?
Atau sebenarnya ada cerita yang jauh lebih teknis di balik aksi jual ini?
Saham GOTO Jadi Sasaran Utama Penjualan Asing
Angkanya cukup menarik untuk dibedah.
Pada sesi pertama perdagangan Senin, 31 Agustus 2026, investor asing sebenarnya masih mencatatkan pembelian bersih atau net foreign buy sekitar Rp183,56 miliar di pasar reguler.
Artinya, asing tidak sedang kabur dari seluruh pasar saham Indonesia.
Total pembelian asing mencapai sekitar Rp2,95 triliun, sedangkan penjualannya berada di kisaran Rp2,77 triliun.
Jadi kalau ada yang melihat GOTO dilepas asing kemudian langsung menyimpulkan bahwa investor global sedang meninggalkan Indonesia, kesimpulan tersebut terlalu jauh.
Yang terjadi lebih menyerupai rotasi.
Ada saham yang dilepas, tetapi ada pula saham lain yang justru diburu.
BBRI misalnya menjadi salah satu tujuan utama dana asing dengan net foreign buy sekitar Rp163,98 miliar. Kemudian KOTA sekitar Rp83,56 miliar, ADRO Rp53,88 miliar, BBCA Rp38,41 miliar, dan BULL sekitar Rp35,83 miliar.
Sementara di sisi penjualan, GOTO berada paling depan.
Net foreign sell GOTO mencapai Rp115,82 miliar. Setelah GOTO terdapat EMAS sekitar Rp83,42 miliar, AMMN Rp60,36 miliar, TPIA Rp58,95 miliar, serta DSSA sekitar Rp37,69 miliar.
Jadi cerita hari itu bukan sekadar asing jual saham.
Ceritanya adalah asing tetap membeli saham Indonesia, tetapi pada saat yang sama menjual GOTO dalam jumlah besar.
Dan kebetulan, tanggalnya sangat penting.
Kenapa Asing Ramai-Ramai Jual Saham GOTO?
Kalau melihat kejadian ini tanpa mengetahui kalender MSCI, situasinya memang bisa terlihat mengkhawatirkan.
Investor asing menjual GOTO lebih dari Rp100 miliar hanya dalam setengah hari. IHSG sedang melemah. Saham teknologi ini juga sudah lama berada di harga bawah.
Namun ada satu potongan puzzle yang tidak boleh hilang.
Tanggal 31 Agustus 2026 merupakan tanggal efektif perubahan hasil August Index Review MSCI 2026.
Dan GOTO termasuk saham yang dikeluarkan dari MSCI Global Standard Indexes.
MSCI telah mengumumkan perubahan tersebut pada 13 Agustus 2026. Seluruh perubahan hasil review itu efektif setelah penutupan perdagangan pada 31 Agustus 2026.
Nah, dari sini ceritanya mulai masuk akal.
GOTO Keluar dari MSCI Global Standard
MSCI bukan sekadar perusahaan yang membuat daftar saham.
Indeks-indeks MSCI menjadi salah satu acuan yang sangat penting bagi investor institusi global. Banyak fund manager dan produk investasi pasif menggunakan indeks MSCI sebagai benchmark dalam menentukan komposisi portofolionya.
Bayangkan ada sebuah reksa dana atau exchange traded fund yang tugasnya mengikuti sebuah indeks.
Kalau indeks tersebut berisi saham A, B, C dan GOTO, fund tersebut perlu menyesuaikan portofolionya supaya komposisinya mendekati indeks.
Kemudian suatu hari MSCI mengatakan:
GOTO keluar.
Fund yang mengikuti indeks tentu harus melakukan penyesuaian.
Mereka tidak bisa mengatakan, “Ah, saya masih sayang GOTO, simpan saja.”
Kalau mandat investasinya memang mengikuti indeks, komposisi portofolio perlu disesuaikan.
Inilah kenapa perubahan anggota indeks global sering memunculkan transaksi besar menjelang tanggal efektif.
MSCI Punya Alasan Khusus Mengeluarkan GOTO
Hal yang membuat kasus GOTO semakin menarik adalah alasan di balik penghapusannya.
Berdasarkan penjelasan MSCI yang diberitakan pada 13 Agustus 2026, GOTO dikeluarkan dari MSCI Global Standard Indexes karena terdapat potensi persoalan terkait replikabilitas indeks akibat likuiditas saham yang sangat rendah.
Persoalan tersebut berhubungan dengan harga saham GOTO yang diperdagangkan pada level minimum Rp50 per saham sejak penutupan perdagangan 13 Mei 2026.
MSCI menilai kondisi tersebut menimbulkan persoalan terhadap kemampuan investor untuk mereplikasi indeks.
Ini cukup berbeda dengan narasi sederhana bahwa sebuah saham keluar indeks karena perusahaannya dianggap jelek.
Dalam kasus GOTO, persoalan teknis terkait harga dan likuiditas memainkan peran penting.
Berdasarkan data RTI Business yang dikutip detikFinance pada pertengahan Agustus 2026, harga saham GOTO tercatat stagnan di Rp50 selama sekitar tiga bulan. Sepanjang 2026 ketika data tersebut diterbitkan, saham GOTO telah melemah sekitar 21,88 persen.
Yang lebih menarik lagi, net foreign sell GOTO sepanjang tahun ketika itu sudah mencapai sekitar Rp1,77 triliun.
Artinya, aksi jual asing yang terlihat pada akhir Agustus bukan kejadian yang berdiri sendiri.
Tekanan asing terhadap GOTO sudah berlangsung jauh sebelumnya.
GOTO Sudah Dijual Asing Sebelum 31 Agustus
Kalau kita mundur beberapa hari, polanya semakin terlihat.
Pada Jumat, 28 Agustus 2026, GOTO juga menjadi salah satu saham yang ramai dilepas asing.
Pada sesi pertama perdagangan hari itu, berdasarkan data Stockbit yang dikutip detikFinance, GOTO menjadi saham dengan penjualan bersih asing terbesar sekitar Rp134,90 miliar.
Saat itu situasinya bahkan sedikit berbeda.
IHSG pada sesi pertama justru menguat sekitar 0,42 persen menuju level 6.548,85.
Artinya, tekanan terhadap GOTO tidak hanya muncul ketika IHSG merah.
Ketika IHSG menguat pun asing masih melakukan penjualan terhadap GOTO.
Ini semakin memperkuat dugaan bahwa ada faktor khusus GOTO yang sedang dimainkan pasar menjelang implementasi perubahan MSCI.
Pada perdagangan 28 Agustus, total foreign buy di pasar tercatat sekitar Rp2,08 triliun sementara foreign sell mencapai Rp2,21 triliun sehingga net foreign sell sekitar Rp125,08 miliar pada sesi pertama.
GOTO sendiri dilepas asing sekitar Rp134,90 miliar.
Kemudian datang perdagangan 31 Agustus.
GOTO kembali berada di urutan teratas saham yang dilepas asing dengan net sell Rp115,82 miliar pada sesi pertama.
Kalau dilihat seperti sebuah cerita, investor seakan sedang membereskan meja sebelum kalender Agustus ditutup.
Tetapi Ada Plot Twist: Morgan Stanley dan Goldman Sachs Justru Ikut Transaksi GOTO
Di sinilah membaca foreign flow tidak boleh terlalu hitam-putih.
“Asing jual GOTO” memang benar.
Tetapi bukan berarti seluruh investor institusi asing sedang berlari menuju pintu keluar secara bersamaan.
Beberapa hari sebelum tanggal efektif perubahan MSCI, justru muncul transaksi besar GOTO di pasar negosiasi yang melibatkan institusi asing.
Kontan melaporkan Morgan Stanley & Co. International PLC membeli sekitar 3,79 miliar saham GOTO di pasar negosiasi pada 21 Agustus 2026.
Harga transaksinya sekitar Rp23 per saham dengan nilai keseluruhan kurang lebih Rp87,3 miliar.
Goldman Sachs juga disebut ikut meramaikan transaksi GOTO di pasar negosiasi.
Ini membuat ceritanya jauh lebih kompleks.
Di pasar reguler kita melihat tekanan jual asing.
Di sisi lain, terdapat pula institusi asing yang melakukan transaksi besar melalui pasar negosiasi.
Jadi istilah “asing ramai-ramai jual GOTO” memang menggambarkan apa yang terlihat dalam foreign flow tertentu, tetapi bukan berarti tidak ada investor asing yang mengambil posisi di saham tersebut.
Pasar modal memang jarang sesederhana headline.
Kenapa Harga Transaksi Negosiasi GOTO Bisa Jauh di Bawah Rp50?
Pembaca yang mengikuti GOTO mungkin langsung bertanya ketika melihat angka Rp23.
Bukankah harga GOTO di pasar reguler berada di Rp50?
Di sinilah perbedaan pasar reguler dan pasar negosiasi menjadi penting.
Harga Rp50 merupakan batas harga minimum yang berlaku dalam perdagangan reguler sesuai mekanisme bursa yang berlaku pada saat itu.
Sementara transaksi di pasar negosiasi memiliki karakteristik berbeda karena harga dapat dinegosiasikan antara pihak yang melakukan transaksi.
Itulah sebabnya transaksi saham GOTO dalam jumlah miliaran lembar bisa terjadi pada harga yang jauh di bawah Rp50 melalui pasar negosiasi.
Dan transaksi seperti ini memberikan gambaran lain mengenai bagaimana investor besar mengelola posisi mereka.
Investor ritel mungkin melihat layar dan berkata, “GOTO masih Rp50.”
Tetapi di balik layar reguler tersebut, transaksi jumbo bisa saja berpindah tangan pada valuasi yang berbeda.
IHSG Melemah, tetapi Asing Justru Net Buy
Ada satu bagian yang cukup unik dari perdagangan 31 Agustus.
IHSG merah, tetapi investor asing secara keseluruhan pada sesi pertama justru mencatat net buy di pasar reguler.
IHSG turun tipis 0,01 persen menuju 6.517,24 pada akhir sesi pertama.
Pada saat bersamaan, asing mencatat net buy Rp183,56 miliar.
Ini menjadi pengingat bahwa arah IHSG tidak selalu sama dengan arah foreign flow secara keseluruhan.
IHSG dihitung berdasarkan pergerakan saham dengan bobot masing-masing. Beberapa saham berkapitalisasi besar yang turun dapat memberikan tekanan terhadap indeks meskipun investor asing sedang melakukan pembelian pada saham tertentu.
Pada perdagangan tersebut, saham-saham bank besar justru membantu menahan IHSG.
BBRI, BBNI dan BBCA menjadi beberapa penopang indeks di tengah tekanan saham komoditas.
Jadi uang asing sebenarnya belum hilang.
Sebagiannya hanya berpindah kamar.
Dari satu saham menuju saham lainnya.
Dan GOTO kebetulan menjadi salah satu kamar yang sedang banyak ditinggalkan.
Rebalancing MSCI Bikin Pasar Makin Sibuk
Hari terakhir Agustus juga bukan hari perdagangan biasa.
Pasar sudah mengantisipasi implementasi hasil rebalancing MSCI yang berlaku efektif pada penutupan 31 Agustus 2026.
BRI Danareksa Sekuritas sebelumnya memperkirakan aktivitas rebalancing berpotensi meningkatkan volatilitas, terutama menjelang penutupan perdagangan.
Pasar juga sedang menghadapi sejumlah sentimen lain.
Investor berada dalam mode wait and see terhadap arah kebijakan Federal Reserve, perkembangan politik domestik serta sejumlah data ekonomi yang akan dirilis memasuki September.
Sepanjang pekan sebelumnya, investor asing bahkan mencatatkan net sell sekitar Rp1,31 triliun di pasar reguler.
Jadi GOTO tidak sedang berdiri sendirian di tengah lapangan.
Lingkungan pasarnya sendiri memang sedang cukup ramai.
Tetapi status GOTO yang dikeluarkan dari MSCI Global Standard membuat saham ini mendapatkan sorotan ekstra.
Apakah Foreign Sell Berarti Fundamental GOTO Memburuk?
Belum tentu.
Ini adalah jebakan yang cukup sering terjadi ketika membaca aktivitas investor asing.
Foreign sell tidak otomatis berarti fundamental perusahaan memburuk.
Ada banyak alasan investor institusi menjual saham.
Mereka bisa melakukan rebalancing portofolio, memenuhi mandat indeks, mengurangi risiko negara tertentu, mengubah alokasi sektor, mengambil keuntungan, memenuhi kebutuhan likuiditas atau menyesuaikan exposure terhadap emerging markets.
Dalam kasus GOTO pada akhir Agustus 2026, faktor perubahan indeks MSCI sangat sulit diabaikan.
Artinya, sebagian tekanan jual kemungkinan berkaitan dengan penyesuaian portofolio.
Namun bukan berarti fundamental boleh diabaikan.
Investor tetap harus melihat bagaimana perkembangan bisnis GOTO, kemampuan perusahaan menjaga pertumbuhan, efisiensi biaya, arus kas, monetisasi ekosistem, perkembangan layanan on-demand serta bagaimana perusahaan menghasilkan nilai setelah restrukturisasi bisnis e-commerce bersama TikTok.
Foreign flow hanya satu potongan informasi.
Bukan seluruh cerita.
Harga Rp50 Justru Menjadi Persoalan Tersendiri
Ada ironi yang cukup menarik pada GOTO.
Bagi sebagian investor ritel, harga Rp50 terlihat “murah”.
Satu lot hanya membutuhkan modal Rp5.000 sebelum memperhitungkan biaya transaksi.
Dengan uang Rp100.000 seseorang sudah bisa memegang ribuan lembar saham.
Tetapi harga nominal murah tidak sama dengan valuasi murah.
Perusahaan tetap memiliki miliaran bahkan triliunan lembar saham beredar. Karena itu, valuasi harus melihat kapitalisasi pasar dan kondisi fundamental perusahaan, bukan hanya angka harga per lembar.
Dan dalam kasus GOTO, harga Rp50 malah menjadi salah satu persoalan teknis.
Ketika saham terus berada pada harga minimum perdagangan, pergerakan harga menjadi tidak normal seperti saham yang memiliki ruang naik-turun lebih luas.
Kondisi inilah yang kemudian berkaitan dengan kekhawatiran MSCI mengenai likuiditas dan kemampuan indeks direplikasi oleh investor.
Jadi angka Rp50 yang terlihat murah bagi investor ritel justru menjadi sesuatu yang rumit bagi penyedia indeks global.
Apakah Saham GOTO Bisa Naik Lagi Setelah Keluar MSCI?
Keluar dari MSCI bukan berarti sebuah saham otomatis tidak punya masa depan.
Indeks bersifat dinamis.
Komposisinya dapat berubah berdasarkan metodologi dan evaluasi berkala.
Sebuah saham bisa keluar ketika tidak lagi memenuhi kriteria tertentu dan secara teori bisa kembali masuk apabila nantinya kembali memenuhi persyaratan.
Tetapi dalam jangka pendek, perubahan indeks memang dapat menciptakan tekanan.
Fund yang mengikuti indeks perlu melakukan penyesuaian. Saham yang keluar berpotensi mengalami penjualan sementara saham yang masuk berpotensi mendapatkan aliran pembelian.
Setelah proses tersebut selesai, pasar biasanya kembali mencari cerita berikutnya.
Untuk GOTO, pertanyaan setelah 31 Agustus bukan lagi sekadar “berapa banyak asing jual hari ini?”
Pertanyaannya akan berubah menjadi apakah saham tersebut mampu menemukan katalis baru setelah efek rebalancing MSCI mereda.
Investor Ritel Jangan Cuma Melihat Asing Jual atau Beli
Ada kebiasaan menarik di kalangan investor ritel.
Ketika asing membeli saham tertentu, muncul komentar, “Wah, bandar asing masuk.”
Ketika asing menjual, berubah menjadi, “Waduh, asing kabur.”
Padahal investor asing bukan satu orang yang duduk di sebuah ruangan kemudian menekan tombol buy dan sell bersama-sama.
Ada hedge fund, sovereign wealth fund, mutual fund, ETF, perusahaan sekuritas, investment bank dan berbagai institusi lain dengan strategi berbeda.
Satu investor asing bisa menjual.
Investor asing lainnya bisa membeli.
Itulah kenapa kita melihat GOTO mengalami net foreign sell di satu sisi, sementara Morgan Stanley melakukan pembelian miliaran lembar melalui pasar negosiasi di sisi lainnya.
Yang terlihat di layar hanyalah hasil akhirnya.
Cerita di belakang transaksinya bisa jauh lebih rumit.
GOTO Sedang Menghadapi Ujian Setelah MSCI
Bagi GOTO, September 2026 mungkin justru menjadi periode yang lebih menarik untuk diperhatikan.
Efek rebalancing MSCI selesai pada akhir Agustus.
Setelah itu pasar mulai memiliki kesempatan untuk menilai GOTO dengan noise teknikal indeks yang lebih kecil.
Apakah tekanan jual asing masih berlanjut?
Apakah transaksi di pasar negosiasi masih ramai?
Apakah ada akumulasi baru?
Dan yang jauh lebih penting, apakah perkembangan fundamental perusahaan mampu memberikan alasan bagi investor untuk kembali memberikan valuasi lebih tinggi?
Itulah pertanyaan sebenarnya.
Sebab selama Agustus, GOTO berada di tengah dua cerita besar.
Cerita pertama adalah bisnis perusahaan.
Cerita kedua adalah persoalan teknis pasar karena sahamnya berada di harga minimum dan kemudian dikeluarkan dari MSCI Global Standard.
Ketika cerita kedua mulai selesai, perhatian kemungkinan perlahan kembali kepada cerita pertama.
GOTO Dijual Asing, tetapi Jangan Buru-Buru Bilang Asing Kabur
Aksi jual GOTO pada perdagangan akhir Agustus memang mencolok.
Net foreign sell sekitar Rp115,82 miliar hanya dalam sesi pertama membuat GOTO berada di posisi teratas saham yang paling banyak dilepas investor asing pada 31 Agustus 2026.
Beberapa hari sebelumnya, GOTO juga sudah mengalami tekanan jual asing.
Tetapi konteksnya tidak boleh dipotong.
Tanggal 31 Agustus merupakan hari efektif implementasi perubahan indeks MSCI. GOTO dikeluarkan dari MSCI Global Standard setelah penyedia indeks tersebut menyoroti persoalan replikabilitas yang berkaitan dengan rendahnya likuiditas akibat saham diperdagangkan pada harga minimum Rp50 sejak pertengahan Mei.
Pada saat yang sama, investor asing secara keseluruhan bahkan masih mencatat net buy Rp183,56 miliar di pasar reguler pada sesi pertama 31 Agustus.
Mereka membeli BBRI, KOTA, ADRO dan BBCA.
Sementara GOTO dilepas.
Jadi yang terlihat lebih mirip rotasi dan penyesuaian portofolio daripada eksodus total investor asing dari Bursa Efek Indonesia.
Menariknya lagi, beberapa institusi asing seperti Morgan Stanley sebelumnya justru terlihat melakukan transaksi pembelian miliaran saham GOTO melalui pasar negosiasi.
Semua itu membuat GOTO menjadi saham yang cukup unik untuk diamati.
Kalau Agustus adalah bulan ketika investor sibuk dengan MSCI, September akan menjadi ujian berikutnya.
Setelah alasan teknis rebalancing mulai hilang dari meja, pasar akan melihat apakah tekanan jual terhadap GOTO ikut mereda atau justru berlanjut.
Kalau asing masih terus menjual dalam jumlah besar setelah efek MSCI selesai, barulah pertanyaannya menjadi lebih serius.
Tetapi kalau tekanan mulai berkurang, aksi jual besar pada akhir Agustus bisa jadi memang lebih banyak merupakan cerita tentang sebuah saham yang sedang dikeluarkan dari indeks global.
Dan seperti biasa di pasar modal, satu hari perdagangan belum cukup untuk menulis akhir cerita.
Referensi
IDNFinancials – “Investor asing borong saham bank saat IHSG tertekan di sesi I”, 31 Agustus 2026. Data menunjukkan GOTO mencatat net foreign sell Rp115,82 miliar dan menjadi saham dengan penjualan bersih asing terbesar pada sesi pertama perdagangan.
https://www.idnfinancials.com/id/news/68119/investor-asing-borong-saham-bank-saat-ihsg-tertekan-di-sesi-i
EmitenNews – “Asing Terpantau Net Buy Rp183,56M di Sesi I (31/8) Jelang Efektif MSCI”, 31 Agustus 2026. Memuat data IHSG sesi pertama, foreign flow serta saham-saham yang paling banyak dibeli dan dijual investor asing.
https://www.emitennews.com/news/asing-terpantau-net-buy-rp18356m-di-sesi-i-318-jelang-efektif-msci
Bloomberg Technoz – “Simak Dinamika IHSG di Awal Perdagangan Hari Ini”, 31 Agustus 2026. Membahas pergerakan IHSG, sentimen rebalancing MSCI, kebijakan The Fed serta foreign flow menjelang perdagangan terakhir Agustus.
https://www.bloombergtechnoz.com/detail-news/119954/simak-dinamika-ihsg-di-awal-perdagangan-hari-ini
detikFinance – “Asing Ramai-ramai Lepas Saham GOTO Saat IHSG Menguat”, 28 Agustus 2026. Memuat data net foreign sell GOTO sekitar Rp134,90 miliar pada sesi pertama perdagangan 28 Agustus.
https://finance.detik.com/bursa-dan-valas/d-8637957/asing-ramai-ramai-lepas-saham-goto-saat-ihsg-menguat
detikFinance – “Ini Alasan MSCI Depak Saham GOTO”, 13 Agustus 2026. Membahas keputusan MSCI mengeluarkan GOTO dari MSCI Global Standard Indexes dan persoalan likuiditas saham di harga Rp50.
https://finance.detik.com/bursa-dan-valas/d-8616115/ini-alasan-msci-depak-saham-goto/amp
Kontan – “Ramai Transaksi GOTO di Pasar Nego, Morgan Stanley-Goldman Sachs Ikut Beli”, 28 Agustus 2026. Membahas transaksi GOTO di pasar negosiasi setelah pengumuman perubahan MSCI, termasuk transaksi Morgan Stanley terhadap miliaran saham GOTO.
https://insight.kontan.co.id/news/ramai-transaksi-goto-di-pasar-nego-morgan-stanley-goldman-sachs-ikut-beli
IndoPremier – “Asing Catat Net Buy Rp183,6 Miliar, BBRI Paling Diburu dan GOTO Dilepas”, 31 Agustus 2026. Memuat data foreign flow sesi pertama, termasuk pembelian asing pada BBRI serta distribusi pada GOTO, AMMN dan TPIA.
https://indopremier.com/ipotnews/newsDetail.php?group_news=IPOTNEWS&halaman=1&jdl=Asing_Catat_Net_Buy_Rp183_6_Miliar__BBRI_Paling_Diburu_dan_GOTO_Dilepas&name=&news_id=237064
