Sorotan:
- Rupiah sentuh Rp18.066 per dolar AS pada 5 Juni 2026 — rekor terburuk sepanjang sejarah RI
- Depresiasi rupiah mencapai lebih dari 7 persen sepanjang tahun 2026
- Bank Indonesia aktifkan tujuh strategi intervensi darurat untuk stabilkan nilai tukar
Jakarta — Nilai tukar rupiah kembali memecahkan rekor terlemah sepanjang sejarah pada perdagangan Jumat pagi (5/6/2026), menyentuh level Rp18.066 per dolar Amerika Serikat. Ini adalah hari kelima berturut-turut rupiah bergerak di atas ambang psikologis Rp18.000, memicu alarm darurat dari Bank Indonesia dan Kementerian Keuangan.
🔖 Simpan artikel ini untuk perkembangan terbaru seputar nilai tukar rupiah.
Mengapa Rupiah Bisa Jatuh Sejauh Ini?

Pelemahan rupiah bukan datang dari satu arah. Ada dua tekanan besar yang menghantam mata uang Garuda sekaligus.
Dari luar negeri, data ketenagakerjaan AS yang lebih kuat dari perkiraan memperkuat ekspektasi bahwa Federal Reserve akan mempertahankan kebijakan moneter ketat lebih lama. Dolar AS menguat di seluruh pasar global, dan rupiah ikut terseret. Ketegangan geopolitik di Timur Tengah — termasuk operasi militer Israel di Lebanon selatan — turut mendorong investor lari ke aset aman berbasis dolar.
Dari dalam negeri, tekanannya tak kalah serius. Kepemilikan asing atas obligasi pemerintah Indonesia turun ke level terendah hampir dua dekade per 2 Juni 2026. Cadangan devisa merosot USD 2 miliar pada April menjadi USD 146,2 miliar — terendah dalam hampir dua tahun. Delapan saham lokal dikeluarkan dari indeks FTSE Russell, memperparah arus keluar modal asing.
Soal sentimen negatif domestik ini, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa sudah angkat suara. Purbaya menyebut pelemahan dalam beberapa hari terakhir lebih banyak didorong rumor dan sentimen pasar yang tidak memiliki dasar kuat, bukan karena memburuknya fundamental ekonomi secara struktural.
Konteks historis juga penting dicatat. Rupiah telah terdepresiasi lebih dari 7 persen terhadap dolar AS sepanjang tahun 2026, menjadikannya mata uang dengan kinerja terburuk di Asia tahun ini. Untuk melihat bagaimana kondisi ini berdampak pada sektor riil, perlu dipahami bahwa ekonomi Indonesia yang sebelumnya tumbuh stabil kini menghadapi ujian terberat sejak beberapa tahun terakhir.
“Bank Indonesia akan terus hadir di pasar dan meningkatkan intensitas intervensi untuk memastikan mekanisme pasar berjalan dengan baik dan stabilitas nilai tukar rupiah terjaga sesuai dengan fundamentalnya.” — Destry Damayanti, Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (4 Juni 2026, keterangan tertulisnya di Jakarta)
3 Langkah Darurat yang Sudah Dijalankan

Bank Indonesia dan pemerintah tidak tinggal diam. Berikut tiga respons paling signifikan yang diaktifkan dalam 48 jam terakhir.
1. Intervensi Berlapis di Pasar Valas
Bank Indonesia memperkuat kehadiran di pasar valuta asing secara simultan — di pasar spot, pasar forward, dan pasar offshore NDF (Non-Deliverable Forward). Intervensi berlapis ini dirancang untuk memotong tekanan dari semua sisi, tidak hanya di dalam negeri. Pembelian Surat Berharga Negara di pasar sekunder juga terus dilakukan; total pembelian SBN oleh BI sepanjang 2026 hingga 19 Mei telah mencapai Rp140,57 triliun menurut data resmi Bank Indonesia.
2. Pengetatan Transaksi Valas
Mulai Juni 2026, Bank Indonesia membatasi pembelian dolar AS tanpa dokumen pendukung (underlying) menjadi maksimal USD25.000 per pelaku per bulan. Ini adalah langkah pengendalian permintaan langsung. BI juga memperketat pengawasan terhadap bank dan korporasi dengan volume pembelian dolar tinggi. Langkah ini sejalan dengan perluasan skema Local Currency Transaction (LCT); per April 2026, nilai transaksi menggunakan LCT mencapai sekitar USD 22,7 miliar — hampir menyamai total pencapaian sepanjang tahun 2025.
3. Imbauan Repatriasi Aset WNI
Langkah yang cukup tidak biasa datang dari Kementerian Keuangan: WNI diminta memulangkan aset yang berada di luar negeri dalam enam bulan ke depan, bahkan tanpa fasilitas pengampunan pajak. Tujuannya jelas — menambah likuiditas dolar di dalam negeri secara cepat. Charu Chanana, Kepala Strategi Investasi Saxo, menyebut kebijakan ini berpotensi mengurangi tekanan jangka pendek terhadap rupiah, meski efektivitas jangka panjangnya masih perlu diuji.
Menarik mencermati bagaimana Menkeu Purbaya yang sebelumnya gencar melakukan sidak untuk memperbaiki tata kelola fiskal kini menghadapi tantangan jauh lebih besar: menjaga kepercayaan pasar di tengah gempuran tekanan eksternal yang tidak pernah setinggi ini.
“Investor khawatir bahwa kenaikan harga minyak akan meningkatkan biaya subsidi dan kompensasi energi, melemahkan kredibilitas fiskal, mendorong kenaikan imbal hasil obligasi, serta membatasi ruang Bank Indonesia untuk melonggarkan kebijakan moneter.” — Josua Pardede, Kepala Ekonom Bank Permata (dikutip oleh berbagai media nasional, 4 Juni 2026)
Apa Dampaknya bagi Masyarakat Indonesia?

Jangan anggap ini hanya soal angka di layar terminal perdagangan. Rupiah lemah punya efek domino ke kehidupan sehari-hari.
Barang impor — mulai dari bahan baku industri, elektronik, hingga sebagian komoditas pangan — otomatis naik harga. DPR sudah memperingatkan kondisi ini akan berpengaruh langsung ke sektor pangan mengingat Indonesia masih bergantung pada impor untuk beberapa komoditas strategis.
Inflasi Mei 2026 sudah tercatat 0,28 persen secara bulanan, lebih tinggi dari April yang 0,13 persen. Kenaikannya didorong oleh harga pangan bergejolak, harga energi, dan harga yang diatur pemerintah. Jika rupiah tidak segera stabil, tekanan inflasi berpotensi terus meningkat.
Satu titik terang yang perlu dicatat: pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal pertama 2026 masih solid di angka 5,61 persen. Bank Indonesia memperkirakan inflasi tetap terkendali di kisaran 2,5±1 persen sepanjang 2026, dengan pertumbuhan ekonomi di kisaran 4,9–5,7 persen. Fundamental ini yang menjadi argumen utama BI bahwa koreksi saat ini masih dalam batas kewajaran.
Sementara itu, pelemahan rupiah yang berlanjut juga menambah tekanan bagi dunia kerja. Sebelumnya, PHK massal yang menerpa Sritex sudah menjadi pertanda nyata betapa rentan sektor industri Indonesia terhadap gejolak ekonomi. Jika nilai tukar tidak stabil, gelombang tekanan serupa bisa meluas ke lebih banyak sektor yang bergantung pada bahan baku impor.
Apa yang Terjadi Selanjutnya?
Dalam jangka pendek, pasar akan sangat bergantung pada data nonfarm payrolls AS yang dirilis Jumat (5/6/2026) malam waktu Indonesia. Jika data tenaga kerja AS kembali kuat, dolar bisa bertahan tinggi dan rupiah semakin tertekan.
Di sisi domestik, spekulasi seputar peringkat kredit sovereign Indonesia perlu diperhatikan. Kepemilikan asing atas obligasi pemerintah yang menyusut ke level terendah hampir 20 tahun adalah sinyal peringatan yang tidak bisa diabaikan.
Bank Indonesia sudah mengunci posisinya: intervensi akan terus diintensifkan. Pertanyaannya bukan apakah BI akan hadir di pasar, tapi seberapa lama cadangan devisa mampu menopang upaya stabilisasi ini.
Satu hal pasti: era rupiah di bawah Rp17.000 sudah jauh di belakang. Yang dibutuhkan sekarang adalah koordinasi kebijakan yang solid antara BI, Kemenkeu, dan Kemenko Perekonomian — plus kepercayaan investor yang perlu dibangun kembali lewat tindakan nyata, bukan sekadar klarifikasi verbal.
UPDATE 05 Juni 2026, 09.15 WIB: Rupiah pada pembukaan perdagangan pagi ini bergerak di kisaran Rp18.040–Rp18.066 per dolar AS. Tekanan berlanjut seiring pasar menantikan data nonfarm payrolls AS malam ini.
📧 Dapatkan update terbaru langsung ke inbox — daftarkan email Anda untuk notifikasi breaking news ekonomi dari nwipp-newspapers.com
